TENTANG KAMI | INDEX | REDAKSI | IKLAN | RSS | PETA | KONTAK | KETENTUAN | FORUM | FACEBOOK | Twitter | REGISTER | SIGN IN
Jumat, 24 Maret 2017 - 26 Jumadil Akhir 1438 H

Ruang Ikhtiar Itu Bernama Shelter

Rabu Sore, 2 Maret 2016, warga Padang, Sumatera Barat, tengah menikmati santap malam bersama keluarga, sementara sebagian lainnya ada yang masih dalam perjalanan menuju ke rumah usai menjalani rutinitas di tempat kerja pada hari itu.

Tiba-tiba gempa berkekuatan 8,2 Skala Richter mengguncang bumi Ranah Bingkuang pada pukul pukul 19.49 WIB. Gempa diketahui berlokasi di 5,16 lintang selatan, 94,05 bujur timur atau 682 kilometer barat daya Kepulauan Mentawai yang berpotensi tsunami.

Tak ayal getaran gempa yang dirasakan cukup kuat membuat warga panik. Mereka yang berada dalam rumah berlarian keluar mencegah tertimpa reuntuhan bangunan.

Yang lain bersiap menuju ke daerah lebih tinggi karena Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan gempa tersebut berpotensi tsunami.

Akibat kepanikan tersebut jalan-jalan di kota Padang menuju ke daerah yang lebih tinggi macet parah. Di kawasan Alang Lawas, Kecamatan Padang Selatan tepat di pertigaan Ganting terjadi antrean panjang.

Sementara di daerah Sawahan menuju Andalas juga amat padat. Meski dalam kondisi gelap gulita semua warga harus berpacu dengan waktu menuju daerah ketinggian.

Meski semua tahu menggunakan kendaraan hanya akan memperlambat evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi namun masyarakat masih tetap nekat sehingga terjadi kemacetan parah. Akibatnya kendaraan hanya bisa bergerak dengan kecepatan 20 hingga 30 kilometer per jam.

Berdasarkan hasil kajian hanya ada waktu 30 menit bagi warga untuk menyelamatkan diri menuju tempat yang lebih tinggi setelah gempa terjadi jika diikuti datangnya gelombang tsunami mengacu pada skenario yang dibuat para ahli.

Hal ini mengingat kecepatan gelombang tsunami sekitar 400 kilometer per jam dengan ketinggian air berkisar 5 sampai 10 meter.

Apalagi Direktur Eksekutif Lembaga Swadaya Masyarakat Komunitas Siaga Tsunami (Kogami), Patra Rina Dewi, menyebutkan sebanyak 380.402 orang warga Padang bermukim di zona merah tsunami di kawasan pesisir Kota Padang.

Oleh sebab itu sarana evakuasi yang paling memungkinkan adalah selter karena jika warga lari sejauh-jauhnya dari pantai tidak akan cukup waktu melawan kecepatan air laut yang mencapai 400 kilometer per jam.

Pada 2015, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah membangun dua shelter di Kelurahan Parupuk Tabing, dan Kelurahan Tabing Kecamatan Koto Tangah Padang.

Selter yang dibangun di Kecamatan Koto Tangah Padang terdiri atas lima lantai dengan ketinggian bangunan mencapai 22 meter dapat menampung 4.500 jiwa dengan radius pelayanan 0,5 hingga 1 kilometer. Pada bangunan tersebut dilengkapi dengan ruang perawatan, toilet dan jalur evakuasi vertikal.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyebutkan saat ini di Padang terdapat sekitar 28 tempat evakuasi sementara yang tersebar di lokasi-lokasi strategis baik gedung pemerintah, sekolah hingga swasta.

Selter tersebut antara lain Gedung Ditjen Perbendaharaan di Jalan Khatib Sulaiman, Fly Over Duku di Jalan Duku-BIM, Masjid Almuhajirin Bungo Pasang Kecamatan Koto Tangah, dan Gedung Universitas Negeri Padang di Jalan Belanti dan Air Tawar.

Kemudian, Gedung Universitas Bung Hatta Ulak Karang, Gedung SMA 1 Jalan Belanti, Gedung SMKN 5 Jalan Belanti, Gedung SMPN 25 Jalan Belanti, Gedung Rusunawa Purus, Gedung SDN 22 Veteran dan Gedung Bank Indonesia Jalan Sudirman.

Lalu Hotel Ibis Jalan Taman Siswa, Hotel Grand Inna Muara Jalan Gereja, Masjid Nurul Iman Jalan Thamrin, Hotel Grand Zurri Jalan Thamrin, Gedung Komplek Kantor Gubernur Jalan Sudirman, Hotel Mercure Jalan Purus, Gedung Dinas Prasarana Jalan dan Tata Ruang Jalan Taman Siswa.

Berikutnya, Gedung Bappeda Jalan Khatib Sulaiman, Masjid Raya Sumbar Jalan Khatib Sulaiman, Gedung Badan Pemeriksa Keuangan Jalan Khatib Sulaiman, Gedung Al Azhar Jalan Khatib Sulaiman, Villa Hadis Jalan Khatib Sulaiman, Balai SDA Jalan Khatib Sulaiman, serta Gubernuran Jalan Sudirman.

Menurut Gubernur, agar masyarakat terlatih melakukan evakuasi menuju shelter saat gempa perlu dilakukan simulasi secara rutin sehingga target waktu 30 menit dapat tercapai.

Jajaran pemerintah daerah, kepolisian hingga TNI pun diminta melakukan simulasi rutin agar warga terlatih.

"Siapa yang siap maka bencana tidak akan melanda, bencana itu datang kepada masyarakat yang tidak siap," ucapnya.

Rawan Gempa
Berdasarkan catatan BMKG Padang Panjang dalam lima tahun menyimpulkan tingginya frekuensi gempa bumi di Sumatera khususnya Sumatera Barat disebabkan karena terdapat tiga sumber ancaman gempa bumi di wilayah itu.
Pertama di daerah subduksi pertemuan antar lempeng tektonik India-Australia dengan lempeng Eurasia yang berjarak sekitar 250 kilometer dari garis pantai pesisir barat Sumatera, kata Kepala BMKG Padang Panjang Rahmat Triyono.

Kemudian di daerah sesar Mentawai yang berjaraknya sekitar 120 kilometer dari garis pantai Sumatera Barat, dan yang ketiga adalah sumber ancaman gempa bumi yang ada di daratan Sumatera yang sering disebut sesar Sumatera.

Dalam lima tahun terakhir, dari 2011 sampai dengan awal tahun 2016 di wilayah Sumbar dan sekitarnya terjadi 1.617 gempa bumi dengan perincian 135 diantaranya gempa bumi berkekuatan di atas 5,0 Skala Richter, 94 gempa bumi dirasakan dan beberapa di antaranya merusak.

Dari 1.617 kejadian gempa bumi di wilayah Sumbar dan sekitarnya bila dirata-rata maka dapat disimpulkan setiap tahun di wilayah ini terjadi gempa bumi sebanyak 323 kali.

Itu berarti hampir setiap hari di wilayah Sumbar diguncang gempa bumi walaupun kekuatannya kurang dari 5,0 SR.

Rahmat Triyono menyebutkan dari 1.617 kali kejadian gempa bumi ini 135 diantaranya adalah gempa bumi signifikan dengan kekuatan diatas 5,0 SR. Bila dirata-rata dapat disimpulkan setiap tahun Sumbar dan sekitarnya mengalami sekitar 25 kali kejadian gempa bumi dengan kekuatan di atas 5,0 SR.

Oleh sebab itu, hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak, bahwa ancaman gempa bumi di Sumatera tidak hanya bersumber dari Mentawai megathrust saja yang saat ini menjadi fokus perhatian.

Tsunami Safe Zone
Sementara BPBD Kota Padang menekankan pentingnya rekayasa dan pengaturan arus lalu-lintas saat warga melakukan evakuasi mengantisipasi jatuhnya korban akibat tsunami.

"Saat Padang diguncang gempa pada 2 Maret 2016, semua warga bergerak menuju ke arah timur menjauhi pantai, yang terjadi malah macet luar biasa, karena itu perlu dilakukan pengaturan," kata Kepala BPBD Padang, Rudy Rinaldi.

Solusi yang diperlukan adalah membuat informasi di jalan raya tentang wilayah yang sudah aman dari ancaman tsunami.

Jadi, orang yang sudah berada di zona aman tidak perlu lagi melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi sehingga arus dari barat dapat lebih lancar.

Rudy Rinaldi mengatakan belajar dari pengalaman saat gempa semua bergerak serentak ke daerah tinggi, padahal itu tidak perlu cukup yang berada di zona merah saja.

Kalau sudah di zona aman tidak perlu lagi evakuasi, sehingga jalan dapat digunakan oleh mereka yang hendak menuju ke tempat yang lebih tinggi, lanjutnya.

Ia mengusulkan di jalan raya dibuat tulisan zona selamat tsunami atau dibuat dengan baliho berisi informasi ketinggian wilayah sehingga warga paham apakah harus melakukan evakuasi atau tidak.

Ini penting agar jalan raya tidak menjadi kuburan massal, apalagi waktu kedatangan tsunami usai gempa terjadi hanya 20 menit, kalau semua melakukan evakuasi akan terjebak di jalan raya.

Tidak ada seorang pun ingin terjadi bencana, sebab itu perlu kesiapan menghadapinya jika ingin selamat karena bencana merupakan siklus yang selalu berulang dalam kehidupan manusia.

Ruang ikhtiar untuk menyelamatkan diri akan selalu terbuka, sejalan dengan kegigihan manusia. (*)




Editor : Mukhlisun

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Azhari
         Hamparan hijau nan luas sejauh mata memandang ternyata bukan padang rumput, tapi kebun-kebun ...
Baca Juga