Senin, 26 Juni 2017 - 2 Syawwal 1438 H

Explore Poland in Krakow

Hello, perkenalkan saya Iffah Zakya, berkuliah di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Saya adalah exchange partisipant dari AIESEC untuk projek Explore Poland di Krakow, kota yang menawan di Polandia. Projek ini dimulai dari 13 Juni 2016 dan berakhir pada 22 Juli 2016. Saya menghabiskan waktu disana selama 6 minggu.

Pada 11 Juni 2016, saya sampai di Krakow, yaitu dua hari sebelum projek berjalan. Saya pergi kesana menggunakan bus Euroline dari Amsterdam dan langsung ke Krakow. Itu menghabiskan waktu sekitar 23 jam. Saya disana untuk projek musim panas, tapi aku disambut dengan 15 derajat celsius yang mana bagi sebagai saya sebagai orang Indonesia itu merupakan cuaca terdingin yang pernah aku rasakan.

Saya dijemput oleh buddy saya bernama Daniel. Dia yang membawa saya ke kantor AIESEC Krakow. Di sana saya bertemu 18 relawan yang sebagian besar berasal dari Asia. 2 EP dari Indonesia, 2 dari Singapura, 4 dari Thailand, 1 dari Vietnam, 2 dari Hongkong, 2 dari China, 1 dari Ukraina, 1 dari India, 1 dari Ghana, 1 dari Kanada, dan 2 dari Turki. Kami harus saling mengenal dan menerima sesi dua hari dari AIESEC tentang hal-hal yang harus kami ketahui.

Mengapa saya memilih Polandia? Di luar saya ingin belajar hal-hal baru, saya ingin melihat bagaimana orang Eropa begitu baik dalam banyak hal, seperti baik dalam menjalankan hidup mereka dan hal yang membuat diri mereka sendiri begitu hebat dan cerdas. Saya ingin melihat segala sesuatu tentang mereka, menemukan budaya baru, menghadapi orang-orang baru, berbagi pendapat dari sisi lain, dan mendapatkan pengalaman kerja baru serta mengambil pelajaran dari itu.

Saya tinggal di asrama Mahasiswa, Miasteczko Studenckie AGH, dekat pusat kota Krakow. Teman sekamar saya berasal dari Thailand dan Kanada. Salah satu yang berasal dari Kanada adalah orang Cina asli, jadi tidaklah sulit bagi kami untuk menjadi dekat karena kami memiliki jenis budaya yang tidak jauh berbeda. Ini adalah pertama kalinya saya untuk berbagi kamar dengan orang asing, dan kenyataannya sangat menyenangkan.

Saya relawan di sebuah TK swasta di sisi kota Krakow. Untuk mencapai TK tersebut, saya harus melintasi seluruh kota yang jaraknya 13 km dan butuh 1 jam 15 menit untuk sampai ke sana. Saya mulai bekerja jam 9, sehingga saya harus mengambil bus jam 7.30 atau lebih cepat. Karena jika saya ketinggalan bus, saya harus menunggu selama 45 menit. Pada hari pertama saya bekerja di TK, teman saya menemani saya pergi kesana. Tapi hari berikutnya sampai hari terakhir dalam projek, saya pergi sendiri.
Di TK tersebut, saya bertemu Pani Kasia, seorang Kepala Sekolah. Dia orang yang baik. Dia memperkenalkan saya kepada Pani Ania, satu-satunya guru yang fasih dalam berbicara bahasa Inggris. Setelah itu Pani Ania membawa saya ke kelas, saya bertemu dengan guru-guru lain, Pani Iwonka dan Pani Renata dan tentu saja anak-anak terlucu yang pernah saya temui. Mulai dari hari itu, saya memiliki 32 siswa/i yang menakjubkan.

Saya baru pertama kali pergi ke luar negeri. Pada hari ke-2, saya sangat gugup dan takut tersesat untuk pergi ke TK tempat saya bekerja. Tapi disaat bersamaan, saya berpikir, itulah kenapa saya di sini, untuk memecahkan masalah yang saya miliki. Ini adalah salah satu dari sejuta proses yang saya butuhkan untuk membuat saya menjadi 'manusia sejati' dalam hidup. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke TK dikeadaan saya tidak memiliki koneksi internet, tidak memiliki provider lokal untuk menelepon siapa pun dan juga tidak memiliki mata uang lokal untuk membayar atau membeli sesuatu.

Saya menggunakan bus ke TK. Satu jam berlalu. Tapi bahkan, saya tidak tahu di mana saya berada. Pada saat itu, saya tidak ingin berpikir bahwa saya tersesat. Tapi itu hampir 1 jam 30 menit, dan saya belum sampai di TK. Kenyataannya, saya memang tersesat.



Editor : Siri Antoni

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
          Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru saja menetapkan sistem pendidikan baru ...
Baca Juga