Solok Selatan Bentuk KPA Cegah Penyebaran HIV/AIDS

Pewarta : id HIV/AIDS

Padang Aro, (Antara Sumbar) - Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat akan membentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) guna mencegah penyebaran penyakit berbahaya tersebut.

"KPA ini akan melibatkan lintas sektor dan kita akan mengusulkan anggarannya di 2017," kata Kepala Dinas Kesehatan Solok Selatan, Novirman di Padang Aro, Senin.

Ia mengatakan pihaknya pada tahun ini baru memberikan rekomendasi untuk pengobatan gratis kepada penderita HIV/AIDS.

Tetapi tahun depan, imbuhnya akan diupayakan membentuk KPA agar tidak ada lagi penularan baru atau kasus baru yang berkembang.

Ia mengatakan dari 26 orang yang tercatat menderita penyakit berbahaya tersebut 16 orang didapat karena seks, enam orang tertular dari orang tua atau suami maupun istri serta dua orang disebabkan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dan dua lagi terlibat narkoba.

"Seks bebas mendominasi penyebaran virus HIV bagi penderita di Solok Selatan dan sekarang mereka harus meminum obat setiap hari untuk tetap bertahan hidup," sebutnya.

Dari 26 orang yang menderita HIV/AIDS tersebut, imbuhnya delapan orang sudah meninggal dunia dan 16 orang diberikan Anti Retro Viral (ARV) untuk mencegah berkembangnya virus HIV.

Penderita penyakit berbahaya tersebut, imbuhnya ada yang hanya terkena HIV saja atau HIV/AIDS serta Tubercolosis/HIV.

Ia menyebutkan penderita HIV/AIDS di Solok Selatan didominasi usia yang masih tergolong produktif yaitu antara 17-43 tahun.

"Sekarang ini juga ada balita berusia 4,5 tahun yang tertular dari orang tuanya yang positif HIV/AIDS," katanya.

Ia menambahkan penderita HIV/AIDS juga ada yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang usianya masih muda serta satu orang mahasiswa yang baru berusia 20 tahun.

Sementara itu anggota DPRD Solok Selatan Raimon mendukung rencana pemerintah ini supaya penyebaran HIV/AIDS bisa dicegah.

"Pemerintah harus sungguh-sungguh melaksanakan programnya supaya alokasi anggaran yang akan digunakan tidak mubazir," katanya.

Selain itu, imbuh pemerintah daerah juga harus meningkatkan pengawasan terhadap lokasi atau tempat yang dianggap sebagai ajang seks bebas untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS.

"Orang tua dan guru juga harus dilibatkan dalam pengawasan anak-anak mereka supaya tidak terlibat seks bebas serta penyalahgunaan narkoba yang menjadi penyebab utama penyebaran HIV/AIDS," terangnya.

Menurutnya melakukan upaya pencegahan jauh lebih baik daripada memberikan obat terhadap penderita HIV/AIDS, oleh sebab itu harus serius melaksanakannya. (*)
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar