Sawahlunto Rancang Pemecahan Rekor Peserta Randai Terbanyak

id randai

Penampilan pemuda Nagari Lunto, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, yang tergabung dalam Group Randai Tapian Janiah di Lapangan Silo Kecamatan Barangin. (Antara Sumbar (Rully Firmansyah)

Sawahlunto, (Antara Sumbar) - Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, merancang pemecahan rekor penampilan kesenian tradisi Randai dengan peserta terbanyak dalam satu penampilan, pada 2017.

"Dijadwalkan pelaksanaannya pada Oktober 2017 bertepatan dengan kegiatan Sawahlunto International Music Festival (SIMFES), yang merupakan agenda rutin kepariwisataan kota ini sejak 2010," kata Kepala Dinas tersebut, Efriyanto di Sawahlunto, Rabu.

Dalam kegiatan tersebut, jelasnya diperkirakan akan diikuti oleh 1.000 orang lebih seniman kesenian khas suku Minangkabau itu utusan berbagai kelompok seni baik lokal maupun dari daerah sekitar untuk memainkan salah satu unsur dari Randai, "Tapuak Galembong", yakni gerakan memukul celana yang didesain khusus hingga bisa berfungsi sebagai pengganti alat perkusi ditangan pelaku seni tersebut.

Karena dimainkan secara bersamaan secara kolosal oleh peserta dalam jumlah besar, lanjutnya kegiatan tersebut diberi nama "Tapuak Galembong Rami" dan sudah diuji coba beberapa kali pada beberapa kesempatan dalam prosesi penyambutan tamu kehormatan dengan jumlah peserta terbanyak hingga 300 orang.

"Pemecahan rekor ini segera kami konsultasikan ke pihak pengelola Museum Rekor Indonesia (MURI) serta beberapa pihak yang ditargetkan bersedia membantu pembiayaan melalui kerja sama promosi dalam bentuk sponsor kegiatan," ujar dia.

Dia mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi sarana promosi bagi kota itu untuk meningkatkan jumlah kunjungan pelancong, sebagai bagian pelaksanaan mewujudkan visi kota wisata tambang berbudaya pada 2020, sebagaiman diatur dalam Perda Kota Sawahlunto nomor 2 tahun 2001.

Sementara itu, salah seorang pelaku seni tradisi di kota itu, Adril Janggara menyambut baik upaya pemecahan rekor yang akan dilakukan itu.

"Dari beberapa kali pelaksanaan SIMFES terlihat minat masyarakat untuk kegiatan itu cenderung menurun, karena minimnya pemahaman mereka dalam memandang kesenian tradisi pemusik dunia yang ditampilkan," tambah dia.

Dengan adanya kolaborasi antara kesenian tradisional yang sudah dikenal luas dalam keseharian masyarakat dengan konsep musik modern bernuansa tradisi, tentu akan menjadi pertunjukan menarik untuk disaksikan.

"Jika terlaksana dengan baik, maka hampir dipastikan pencapaian itu akan menjadi jati diri baru bagi kota ini sebagai daerah yang memiliki kepedulian dalam melestarikan nilai-nilai budaya yang berkembang sejak lama dalam kehidupan sosial bermasyarakat," sebutnya.

Sebelumnya Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya, telah menegaskan pariwisata yang berbasis budaya akan menjadi masa depan ekonomi nasional sehingga diperlukan dukungan dari semua pihak termasuk dunia pendidikan, untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) kepariwisataan yang memahami budaya bangsa. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar