Selasa, 23 Mei 2017 - 27 Sya'ban 1438 H

Perayaan Waisak, Seribu Lampion Diterbangkan di Percandian Muarojambi

Seorang Biksuni menyalakan api pelita di altar Buddha di Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (10/5) malam. Sebanyak 2561 lilin dinyalakan sabagai rangkaian dari ritual detik-detik Waisak 2581 BE/2017. ( ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jambi, (Antara Sumbar) - Sebanyak seribu buah lampion diterbangkan di komplek situs Percandian Muarojambi, Provinsi Jambi menjelang detik-detik perayaan Waisak 2561BE/2017, Kamis (11/5) dini hari.

Pelepasan lampion berbagai warna itu dilakukan tepatnya di pelataran Candi Gumpung yang merupakan bangunan candi utama yang terdapat di situs percandian terbesar di Indonesia itu.

Sebelum diterbangkan ke udara tepat pukul 02.30 WIB, umat Buddha memanjatkan doa untuk keselamatan agar bangsa Indonesia semakin maju dan dihindarkan dari segala konflik horizontal demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonsia (NKRI).

Gubernur Jambi Zumi Zola yang datang pada malam puncak perayaan Waisak itu juga turut menerbangkan lampion bersama umat Buddha yang hadir dari berbagai daerah di Provinsi Jambi.

Selain umat Buddha yang menerbangkan lampion itu, juga pengunjung dari berbagai daerah yang datang menyaksikan turut diberikan satu buah lampion secara gratis untuk diterbangkan bersama ke udara.

"Semoga dalam perayaan Waisak tahun ini diberikan ketenteraman dan kenyamanan antarumat beragama," kata Ching, salah satu umat Buddha yang datang ke kompleks percandian Muarojambi untuk melaksanakan ibadah.

Ia mengatakan dengan menerbangkan lampion menjadi simbol mengirim doa agar diberi keberkahan dalam setiap menjalankan aktivitasnya.

Sementara pengunjung yang datang tampak mereka ber-swafoto dengan latar cahaya pendar merah lampion.

Setelah menerbangkan lampion, kemudian umat Buddha melanjutkan dengan meditasi sebagai ritual dalam menyambut detik-detik Waisak yang dimulai tepat pukul 03.30 WIB.

Kompleks Percandian Muarojambi yang merupakan terluas di Indonesia itu pada beberapa abad silam adalah sebagai kampus atau pusat pendidikan ajaran Budha.

Kawasan percandian Muarojambi itu memiliki 82 reruntuhan (menapo) bangunan kuno. Saat ini sudah ada delapan bangunan candi yang telah dilakukan ekskapasi atau pemugaran dan pelestarian secara intensif oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi. (*)


Editor : Joko Nugroho

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
    Pagi itu seharusnya Suril Dirman (59) bahagia karena bawang merah yang telah dipeliharanya dengan teliti selama dua ...
Baca Juga