Kamis, 24 Agustus 2017 - 2 Zulhijjah 1438 H

Sinergi Guru-Orang Tua untuk Keberhasilan Pendidikan

Pelajar sedang bermain mengisi waktu istirahat (Ikhwan Wahyudi/Antara Sumbar)
Suryani tidak dapat menyembunyikan kegundahannya sejak dua hari terakhir akibat ulah salah seorang siswa di sekolah tempat ia mengajar.

Guru di salah satu SMA Negeri di Padang itu harus mendatangi rumah salah seorang siswa yang sudah satu minggu tak masuk tanpa keterangan.

Di kelas ia sudah menanyakan kepada murid lainnya namun tidak ada yang tahu dan ketika dicoba hubungi lewat telepon seluler tidak bisa menyambung.

Akhirnya selaku wali kelas ia bersikeras mendatangi rumah siswa itu ditemani suami selepas Maghrib, guna mencari tahu apa gerangan sudah sepekan tak masuk tanpa ada kabar berita.

Setelah bertanya beberapa kali kepada warga akhirnya ia berhasil menemukan alamat siswa itu dan menyambangi orang tuanya.

"Tidak masuk ? setiap hari dia berangkat sekolah seperti biasa buk,” ucap orang tua siswa itu kaget.

Suryani dan orang tua siswa sama-sama kaget tidak menyangka kalau anak tersebut selama ini bolos. Dari rumah berangkat ke sekolah seperti biasa, namun tidak pernah sampai ke sekolah.

Namun Suryani bertambah gusar karena orang tua murid tersebut seakan menuding itu adalah kegagalan pihak sekolah.

"Saya sudah lepas tangan, anak ini sudah saya masukan ke sekolah untuk dididik jadi orang baik," ujar orang tuanya.

Mendengar ucapan seperti itu pada satu sisi ia kesal di sisi lain bisa memahami mengapa orang tua tersebut berujar demikian.

Dilihat dari kondisi rumahnya dan latar belakang sosial ekonomi dapat dimaklumi mengapa orang tua tersebut berpikiran tanggung jawab mendidik anak itu urusan sekolah.

Dengan tenang Suryani pun menjelaskan tanggung jawab pendidikan anak merupakan kerja sama antara pihak sekolah dengan orang tua.

"Kita harus bersama-sama buk, di sekolah kami bertanggung jawab, di rumah bapak dan ibu harus ikut andil, jangan biarkan anak semau-mau sendiri," katanya memberi nasihat.

Orang tua itu pun menceritakan mereka juga kelabakan mengasuh anaknya apalagi keduanya juga bekerja pada siang hari untuk mencari nafkah dan hanya punya waktu luang pada malam hari.

Akhirnya malam itu usai bercerita panjang mereka sepakat untuk saling bersinergi mendidik si anak.

"Saya sempat emosi pa, orang tuanya menyalahkan sekolah, besok ajar saja anak sendiri, dan beri ijazah sendiri, untung masih bisa saya tahan " ucap Suryani pada suaminya dalam perjalanan pulang di mobil.

Suami Suryani, Munif mencoba menenangkan. Ia paham betul bagaimana tanggung jawab seorang guru dan malam hari pun bersedia mengantar istrinya mencari rumah orang tua siswa.

Munif mengingatkan istrinya bahwa menjadi guru adalah profesi mulia untuk membangun generasi masa depan.

"Jangan mudah emosi, lakukan dengan sabar tidak ada siswa yang benar-benar nakal, itu hanya faktor lingkungan," lanjut Munif yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri.

Suami istri itu menyadari mendidik murid di era sekarang tantangannya jauh lebih berat sehingga mereka menyiapkan diri secara total.

Apalagi saat ini sedang marak peristiwa murid yang melaporkan guru ke polisi akibat perlakukan tidak menyenangkan di sekolah.

Tak sedikit guru yang harus berurusan dengan hukum bahkan sampai mendekam di penjara akibat perlakukan terhadap muridnya.

Pendidikan Keluarga

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan untuk mewujudkan keberhasilan dalam dunia pendidikan perlu melibatkan tiga komponen yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat.

"Ketiga unsur itu perlu dilibatkan secara serempak, semua sama-sama penting," kata dia di Jakarta pada acara Semarak Pendidikan Keluarga 2016.

Menurut dia publik tidak boleh membebankan urusan masa depan bangsa ini khususnya tanggung jawab mendidik pelajar hanya kepada sekolah saja.

"Sekolah, keluarga, masyarakat harus saling bergandengan dan berangkulan menata masa depan anak-anak untuk kemajuan bangsa ke depan," ujarnya.

Ia mengatakan selama ini sekolah selalu dipandang sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam mempersiapkan masa depan anak.

Padahal sebetulnya keluarga yang paling bertanggung jawab karena anak lahir dan dibesarkan di rumah dan jika berhasil maka keluarga yang akan menikmati pertama kali, katanya.

Ia melihat pada hari ini terutama di kalangan keluarga modern cenderung menuntut terlalu banyak terhadap sekolah dalam kesuksesan anaknya.

Ada yang memandang apapun harus ditanggung sekolah padahal di sekolah anak hanya beberapa jam dan selebihnya di masyarakat dan keluarga, kata dia.

Oleh sebab itu ia mengajak semua pihak meningkatkan peran keluarga dalam kesuksesan pendidikan masyarakat.

Muhadjir mengakui saat ini banyak pelaksanaan pendidikan yang tidak sinkron antara sekolah dengan keluarga.

Karena itu orang tua harus dididik melalui ilmu kepengasuhan agar menyadari dan memiliki tanggung jawab terhadap anak, lanjut dia.

Ia menambahkan ini mendesak dilakukan agar hadir generasi terpilih yang mampu berkompetisi menghadapi persaingan.




Editor : M R Denya

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Desca Lidya Natalia
     "Jadi Pak ni kalau mau jujur Pak, Saya sampek bilang 'Pak boleh gak sih saya ngomong? KPK itu independen apa ...
Baca Juga