Selasa, 23 Mei 2017 - 27 Sya'ban 1438 H

Letusan Meriam Antar Heru ke Peristirahatan Terakhir

Marjuni tak kuasa menahan tangis ketika peti kayu diselimuti kain berwarna merah putih yang dipanggul delapan orang pria berseragam loreng itu memasuki Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Lolong Padang, Sumatera Barat.

Perempuan paruh baya itu tidak pernah menyangka akan berpisah dengan anak sulungnya Kapten Arh Anumerta Heru Bahyu secepat itu, beberapa hari sebelumnya ia masih sempat berkomunikasi lewat telepon.

Ia berusaha tegar sembari mengucap lafaz kalimat tahlil laailahaillallah dengan bibir bergetar dan terisak. Tak lama kemudian letusan terdengar dari moncong senjata laras panjang yang diletuskan oleh regu petembak salvo.

"Anak ibu.., Heru anak ibu, semoga Heru masuk surga ya nak," ucap Marjuni lirih mencoba tegar mengikuti pemakaman putranya yang meninggal akibat ledakan meriam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat di Natuna Kepulauan Riau.

Upacara pelepasan secara militer itu diikuti bersama menantu kesayangannya, Yona Tristiana dan keluarga besar.

Ketika peti kayu yang diselimuti bendera merah putih diletakkan di bibir liang lahat, upacara dimulai. Letkol Kav Asep Solihin bertindak sebagai pemimpin upacara langsung melakukan pelepasan jenazah yang gugur dalam tugas negara tersebut.

Marjuni bersama keluarga mengikuti prosesi upacara pelepasan secara militer yang digawangi oleh Korem 032 Wirabraja dan Kodim 0312 Padang tersebut dengan khidmat.

Ketika peti yang membawa jasad anaknya perlahan-lahan memasuki liang lahat diiringi letusan tembakan kedua dari regu salvo. Ia berlari mendekat ke liang tersebut. Tak ingin dilepaskannya momen terkahir untuk melepas kepergian anak kandungnya itu.

"Anak Ibu.....,anak ibu....," hanya kata itu yang keluar dari mulutnya sembari mengeluarkan air mata kepedihan.

Marjuni didampingi suaminya Bahri (59), harus merelakan kepergian anak pertama mereka. Anak yang mereka beri nama Heru Bahyu itu gugur ketika menjalankan tugasnya sebagai seorang prajurit bangsa dalam usia yang masih terbilang muda.

Mereka tidak pernah berangan-angan anak yang menjadi kebanggan keluarga lebih dahulu bertemu dengan Sang Pencipta, terakhir anaknya pamit ingin mengikuti kegiatan di Pulau Natuna. Tiga hari yang lalu tepatnya, anaknya berkomunikasi dengan ibu dari empat orang anak itu.

"Heru mengatakan akan mengikuti latihan perang di Pulau Natuna dan ia hanya pamit dengan ibunya saja melalui telepon," kata Bahri.

Tiba-tiba, informasi itu datang, anaknya gugur dalam mengemban tugas negara diterimanya langsung dari istri Heru, Yona Tritiana lewat telepon.

"Setengah jam setelah kejadian saya menerima informasi tersebut, kami hanya bisa pasrah dan banyak berdoa," kata dia sembari menahan kesedihan.

Jenazah Heru yang tiba di rumah duka di Lubuk Alung pada Kamis dinihari sekitar pukul 01.00 WIB setelah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menggunakan pesawat Jenis CN 295/A-2905 milik TNI AU dengan pilot Mayor Pnb Armin.

Kemudian jenazah itu akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa melalui prosesi militer pada Kamis pukul 14.00 WIB.

Sementara, istri Heru, Yona Trisniati terlihat lemas menghadapi kenyataan yang menimpa dirinya. Tubuhnya seakan tidak bertenaga menopang beban yang dibawanya, ia harus dibopong oleh dua orang agar bisa berjalan dan mengikuti upacara.

Raut kesedihan dan air mata tak bisa dilepaskan darinya, ia kehilangan suaminya yang berpamitan menjalankan tugas negara di Kepulauan Natuna.

Bibirnya bergerak kecil-kecil melafazkan doa-doa bagi orang yang paling dicintai dalam hidupnya itu sembari memeluk foto suaminya Kapten Arh Anumerta Heru Bahyu yang telah memberinya dua orang anak.

Matanya nanar memandang foto suaminya menggunakan seragam dinas kebanggaannya, sesekali ia melihat pusara suaminya yang telah dipenuhi dengan bunga mawar.

"Papa, mama mau pulang yaaa, besok mama kesini lagi," katanya berjanji sembari tangannya meremas tanah makam suaminya. Tangisan pun meluncur dari kedua bola matanya, dan berusaha berdiri dari sisi kubur salah seorang pahlawan bangsa tersebut.

Suaminya Kapten ARH Anumerta Heru Bahyu gugur dalam bertugas akibat insiden dalam gladi bersih Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Tanjung Datuk Natuna, Rabu (17/5).

Insiden tersebut terjadi dalam latihan pendahuluan PPRC TNI yang dilaksanakan pada Rabu sekitar pukul 11.21 WIB. Ketika itu, salah satu pucuk Meriam Giant Bow dari Batalyon Arhanud 1/K yang sedang melakukan penembakan mengalami gangguan pada peralatan pembatas elevasi, sehingga tidak dapat dikendalikan.

Ia meninggal bersama Pratu Ibnu Hidayat, Pratu Marwan, dan Praka Edy. Sementara prajurit luka-luka, yakni Pratu Bayu Agung, Serda Alpredo Siahaan, Prada Danar, Sertu B Stuaji, Serda Afril, Sertu Blego Switage, Pratu Ridai Dan Pratu Didi Hardianto

Kapten Arh Anumerta Heru Bahyu lahir pada 6 Juli 1987 di Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia merupakan lulusan Akmil 2008 dengan jabatan terakhir Danraimer B Yonarhanud 1/1 Kostrad.

Ia mengikuti pendidikan di tempat kelahirannya yaitu Lubuk Alung. Ia mulai bersekolah pada tahun 1999 di tingkat sekolah dasar, pada tahun 2002 ia mengikuti pendidikan tingkat sekolah menengah, dan Sekolah menengah pada tahun 2005. pada tahun 2008 ia lulus masuk ke Akademi Militer dan mengikuti pendidikan.

Kapten Arh Heru Bayu meninggalkan dua orang anak berumur 2,5 tahun dan lima bulan dan seorang istri. Dalam karirnya pria itu telah menerima penghargaan Setya Lencana. (*)


Editor : Mukhlisun

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Miko Elfisha
    Pagi itu seharusnya Suril Dirman (59) bahagia karena bawang merah yang telah dipeliharanya dengan teliti selama dua ...
Baca Juga