Kamis, 19 Oktober 2017 - 29 Muharram 1439 H

Penderita Lumpuh Itu Terus Berharap Kesembuhan

Bidan Desa Hesa sedang memberi terapi Biogas terhadap Yoni (31) penderita lumpuh dikediamanya di Dusun Piruko Timur, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Kamis (10/8). (Antara Sumbar/Ilka Jensen).
Pulau Punjung, 9/8 (Antara) - Yoni Saputra (31) warga Dusun Piruko Timur, Kecamatan Koto Baru, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat terbaring lemah di kasur tempat tidurnya. Anak ke dua pasangan Safarudin dan Erlina ini menderita lumpuh setengah badan dari pinggang hingga kaki.


Terbaring di kasur alas biru lengkap dengan pembalut bantal, selimut, dan jaket yang sudah lusuh. Bagian kakinya sudah mengecil seakan tinggal tulang dan kulit. Dalam tujuh tahun terakhir Yon sapaan akrab Yoni pun sulit untuk menggerakan tubuhnya.

Sesekali dia merasa sakit dan ngilu dibagian paha sambil melihat ke atas atap rumah papan ukuran 2x3 meter itu . Di lain waktu dia sesekali menarik nafas panjang untuk menggeser posisi tidur karena sulitnya bergerak.

Ia menjelaskan penyakit yang diderita berawal setelah mengalami jatuh dari pohon ketika sedang bekerja untuk mencari kelangsungan hidup. Awalnya hanya mengalami sakit di bagian pinggang.

Menurut Yon berdasarkan keterangan dokter ia didiagnosa mengalami peyempitan urat saraf yang menyebabkan ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Setiap hari Yoni tinggal seorang diri di rumah seperti gubuk kecil, sembari mendengarkan lalu lalang kendaraan yang melintas. Maklum gubuk kecilnya itu tepat hanya sekitar 50 meter dari tepi jalan lintas provinsi, sekitar 500 meter dari Kantor Pemerintah Kecamatan Koto Baru, dan 1 kilometer dari Kantor Walinagari Koto Baru.

Di sisi lain, ibu Yon bekerja sebagai penjualan sayuran di pasar, sedangkan ayah sudah berpisah sejak ia masih duduk bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD). Namun saat ini sang ibu juga mengalami sakit sehingga tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya memasak makan.

Disaat ibu Yon tidak dapat memasak terpaksa ia sendiri mamasak seadanya dengan perlengkapan seadanya yang tersedia seperti tempat menanak nasi, dan air panas untuk merebus mie.

"Terkadang saya memasak sendiri, hanya itu yang bisa saya lakukan, jadi untuk makan terkadang harus memasak dulu. Namun saya ikhlas,” katanya.

Dia menyebutkan keluarga sudah berupaya membawanya berobat baik kerumah sakit, terapi dan pengobatan herbal selama tiga tahun, namun kondisinya tidak ada kemajuan sehingga memilih bersikap pasrah.

Ia berharap bantuan dari warga untuk membantu pengobatan. Terpenting lagi ia juga berharap kehadiran pemerintah untuk menolong.

"Sudah tidak ada uang lagi untuk berobat, saat ini hanya pasrah dan berharap uluran tangan dari masyarakat," ujarnya.

Di sela perbincangan, ia mengusap kepala dan menarik tangan ke atas untuk melepaskan penat karena hanya itu yang dapat dilakukan saat terbaring di tempat tidur.

“Saya ingin sembuh, agar bisa beraktivitas seperti biasanya. Setiap hari saya berdoa agar Allah memberikan kemudahan pada saya,” ucapnya penuh harap.

Meski demikian, Yoni saat ini mengaku masih mendapat perawatan dari bidang desa yang di daerah itu. Walaupun obat yang diberikan belum mampu menyembuhkan.

Kerabat korban Dwi (18), menceritakan Yoni pindah dari rumah ibunya ke gubuk kecil itu sudah sejak lima tahun terakhir.

Menurutnya sejak Yoni tidak memiliki biaya untuk berobat hingga saat ini tidak pernah berobat lagi. Ia setiap hari tinggal dan hanya mengurung diri di rumah kecil itu sebab sudah tidak mampu bergerak sama sekali.

"Tidak ada bantuan, kasian dirinya hanya tinggal sebatang kara," ujarnya yang diiyakan ibunya Ipit (38).

Selaku tetangga yang tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya berharap pemerintah ataupun dermawan dapat membantu biaya pengobatan Yon sehingga dapat sembuh dan beraktivitas seperti biasanya.

Perlu Penanganan

Bidan desa setempat yang akrab disapa Hesa, menceritakan awalnya ia mengetahui Yon sakit lumpuh dari orang tuanya.

Ia menilai Yoni memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dari dokter spesialis guna mengetahui secara pasti penyakit yang diderita, serta mendapatkan pengobatan yang layak.

Saat ini upaya yang ia dilakukan hanya dengan memberikan terapi Biogas kepada Yoni. Hesa mengatakan, rutin setiap dua kali dalam satu minggu melakukan terapi tersebut.

Pertolongan yang diberikan itu merupakan bentuk pedulinya sebagai petugas kesehatan, di samping tanggung jawab seorang bidan desa yang wajib memantau kesehatan masyarakat sekitar.

"Saya lakukan terapi dua kali dalam satu minggu, sejak 1 januari 2017 lalu," katanya.

Peralatan terapi itupun dipesan dari Surabaya dan dibeli menggunakan uang pribadinya.





Editor : M R Denya

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

Perspektif
Oleh : Atman Ahdiat
Semangat Pemerintah Daerah Sumatera Barat untuk memacu pertumbuhan di sektor pariwisata terpancar pada Forum Investasi Regional ...
Baca Juga