Sempat "Mati Suri" Akibat Krismon, Songket Ambun Suri Kembali Bangkit

id SONGKET

Sejumlah pengrajin mengerjakan kain sulam dan bordir, di UKM Ambun Suri, Bukittinggi, Sumatera Barat. (ANTARA SUMBAR/Iggoy el Fitra)

Berawal dari meneruskan usaha yang didirikan oleh orang tua pada 1975, Ida Arleni kini tetap bertahan sebagai salah satu produsen bordir, sulaman dan songket ternama di kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Pengusaha yang memproduksi bordir Kerancang khas Bukittingg itu juga ikut berperan melestarikan budaya asli daerah kendati harus bersaing dengan kerajinan lain yang mengikuti perkembangan/tren.

Kini produknya yang sudah hadir sejak 42 tahun lalu itu berhasil menembus pasar negeri jiran Malaysia hingga Singapura. Produk turunan bordir kerancang, seperti baju koko, jilbab atau kerudung, baju kurung basiba mendapat tempat di pasar internasional.

Ida memasarkan karyanya di outlet yang diberi nama "Ambun Suri" terletak di Jalan Supratman nomor 21 Kota Bukittinggi, Sumatera Barat atau melalui pameran yang diikuti.

Pelanggannya diantaranya merupakan wisatawan nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke kota "Jam Gadang" itu.

Perempuan berusia 41 tahun tersebut menceritakan saat krisis moneter melanda Indonesia sekitar tahun 1998, usahanya ibarat "hidup segan mati tak mau".

Pada masa itu, selain hantaman krisis moneter, bordir Kerancang yang juga kurang diminati dan kalah bersaing dengan produk dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kemudian pada 2015, pemerintah kota tempat salah satu proklamator, Bung Hatta dilahirkan, merekomendasikan untuk menjadi mitra binaan PT Pertamina. Sejak itu kerajinan yang dihasilkan dengan pengolahan secara manual menggunakan mesin jahit itu kembali bangkit.

"Setelah menjadi mitra binaan, saya diajak Pertamina untuk ikut pameran, seperti di Jakarta, Makassar bahkan sampai keluar negeri, yakni Aljazair pada 2016," katanya.

Berasal dari pameran-pameran yang diikuti tersebut, kerajinan bordir yang awalnya "mati suri" itu kembali hidup dan digemari.

Kini semangat berwirausaha yang telah bangkit mulai membuahkan hasil. Dalam sebulan, Ida mampu mengumpulkan omzet berkisar Rp20 juta hingga Rp30 juta.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atau pembeli baru, ia dibantu 40 perajin binaan. Para perajin binaan tersebut ada yang bekerja aktif di rumah produksinya sebanyak 20 orang dan selebihnya mengerjakan bordiran di rumahnya masing-masing.

Para perajin binaan merupakan masyarakat sekitar dan sebagian besar diantaranya merupakan anak putus sekolah dan yatim piatu. Mereka dibina untuk membuat songket, bordiran, sulaman sehingga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Ia menceritakan menyelesaikan satu kerajinan, membutuhkan waktu yang berbeda-beda tergantung dengan tingkat kesulitannya.

"Satu kerajinan membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikannya karena kami kerjakan secara manual, ada yang sampai lima hari atau lebih, tergantung tingkat kesulitannya," terangnya.

Kualitas dan tingkat kesulitan, berpengaruh terhadap harga jual kerajinan tersebut. Untuk satu produk kerajinan dibandrol berkisar Rp150 ribu hingga Rp4 juta.

Sementara untuk bahan baku, ia tetap menggunakan produk dalam negeri kendati kerajinannya telah mampu menembus pasar internasional.

Penjualan Daring
Beberapa tahun terakhir di Indonesia mulai bermunculan situs-situs penjualan dalam jaringan yang bisa dimanfaatkan usaha kecil dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produknya.

Perkembangan teknologi ini bukan saja dimanfaatkan oleh UMKM yang berasal dari kota-kota besar di Tanah Air, melainkan juga daerah-daerah jauh dari pusat kota.

Ida pun tak ketinggalan produknya telah dipajang di salah satu situs penjualan, yakni belanja.com.

"Melalui bantuan Pertamina, produk kami juga telah dipajang di situs belanja.com," ujarnya.

Sementara Area Manager Communication and Relations Pertamina Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Fitri Erika mengatakan Kementerian BUMN telah menginstruksikan agar produk-produk binaan BUMN turut dipajang di salah satu situs jual-beli, belanja.com.

Kementerian BUMN kini juga telah membuat situs Rumah Kreatif BUMN untuk memperkenalkan produk-produk seluruh binaan BUMN.Memajang produk-produk kerajinan di situs tersebut, memudahkan pengusaha untuk mempromosikannya ke seluruh nusantara hingga ke luar negeri.

"Untuk di Sumbagut yang ada baru di Sumatera Utara dan Riau, kalau Sumatera Barat kami belum tahu," katanya didampingi Officer Small Medium Enterprise Partnership Program (SMEPP) Pertamina Sumbagut, Muhammad Toyib.

Ia juga mendorong agar UMKM binaan BUMN yang berasal dari Sumatera Barat juga bisa memajang hasil produk dan kerajinannya di Rumah Kreatif BUMN tersebut.

Dengan peralihan transaksi dari konvensional menjadi daring, para perajin juga harus meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya, seperti berbahasa Inggris, dan menjaga kualitas produk.

"Kualitas barang yang dipajang harus sama dengan barang yang akan dikirim ke pembeli karena pembeli tidak melihat secara langsung produk yang mereka beli," ujarnya.

Pertamina, imbuhnya, juga memfasilitasi para mitra binaan untuk mengikuti pameran, kecuali di bidang perbengkelan, dalam memperkenalkan produknya.

"Jika mereka tidak bisa ikut, kami biasanya membawa brosur mereka dan memperkenalkannya dalam pameran," ujarnya.

Sementara untuk menekan pengembalian yang macet, sebutnya Pertamina selalu melakukan pemantauan atau monitoring kepada mitra binaannya.

"Jika ada yang macet, kami akan pelajari dimana letak masalahnya. Jika kendalanya dalam pemasaran, kami akan ikutkan pameran atau mencarikan pasar lainnya," ujarnya.

Pertamina memberikan pinjaman dengan bunga ringan untuk pengembangan usaha. Kini terdapat ratusan mitra binaan Pertamina di Sumatera Barat dengan pelbagai bidang usaha sejak 1996.

Dari pinjaman yang telah dikembalikan tersebut, imbuhnya akan digulirkan kembali ke calon-calon mitra binaan.

"Jadi ibaratnya dana revolving yang terus digulirkan," katanya.

Sesuai aturan Kementerian BUMN besaran maksimal dana pinjaman adalah Rp75 juta dengan bunga enam persen setahun.

Dengan program yang dibuat, Pertamina diharapkan turut membantu masyarakat dalam meningkatan perekonomian dengan kemandirian. (*)


Pewarta :
Editor: M R Denya
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar