SDN Percobaan Kuatkan Karakter Melalui "Asah Batu"

Pewarta : id sd percobaan

SD Percobaan Padang

Menjelang berakhirnya jam istirahat di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Percobaan Kota Padang, Sumatera Barat terdengar suara salah seorang guru melalui mikrofon. Suara itu seketika membuat suasana menjadi hening.

Ratusan murid yang tengah asik bermain dan menikmati waktu istirahat mereka,vtiba-tiba terdiam dan fokus mendengar sumber suara.

"Anak-anak mari kita "asah batu"," kata itu meluncur dengan cepat dari mulut sang guru dan menyebar melalui pemancar suara yang terletak di sudut kelas di sekolah yang berada di pusat kota itu.

Mendengar kata-kata itu, anak-anak langsung mengamati kondisi sekitar mereka. Kepala mereka berpaling ke kiri dan kanan, mata mereka layaknya mesin pencari otomatis yang bekerja untuk menemukan sesuatu.

Kemudian apabila mereka menemukan objek yang dituju seperti potongan kertas, pembungkus makanan, dedaunan jatuh bahkan alat tulis yang tidak berguna. Mereka dengan spontan memungutinya satu persatu. Sampah-sampah yang telah mereka pungut mereka bawa untuk dibuang ke tempat sampah yang telah disediakan.

Kegiatan itu dilakukan dengan penuh kegembiraan dan penuh canda tawa, tidak terlihat bahwa itu suatu perintah dari guru yang wajib mereka kerjakan. Setelah itu mereka berlalu ke dalam kelas masing-masing karena lonceng tanda istirahat berakhir telah dibunyikan .

"Asah Batu" merupakan salah satu bentuk program penguatan pendidikan karakter yang dimiliki oleh SDN Percoban Padang. Program itu telah berjalan sejak sekolah ini memulai menggunakan Kurikulum 2013 (K-13).

Kepala Sekolah SD Percobaan Padang Indra Gustiadi mengatakan kata "Asah Batu" itu memiliki arti yakni "Ambil sampah, alamku hijau bahagia hatiku".

"Kegiatan ini dilakukan setiap hari sehingga menjadi suatu budaya yang dilakukan oleh siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar mereka," katanya.

Menurut dia penguatan pendidikan karakter menjadi hal prioritas yang dilakukan oleh sekolah mereka. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah perintis menggunakan kurikulum 2013 di kota berpenduduk sekitar 900 ribu jiwa tersebut.

Pembelajaran yang dituju adalah membuat siswa memiliki karakter religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong. Sistem tersebut diterapkan dalam tiga bentuk pembelajaran yakni pembelajaran berbasis kelas, pembelajaran berbasis budaya dan pembelajaran berbasis masyarakat.

"Sistem pembelajaran ini dilakukan sejak murid tersebut masuk kelas satu dan pemberiannya tentu disesuaikan dengan daya serap anak," ujar dia.

Mulai dari hal sederhana yakni berdoa, setiap mereka memulai kegiatan seperti belajar, makan, minum dan ulangan setiap guru pasti mengingatkan untuk berdoa. “Hal ini dipupuk setiap saat sehingga menjadi karakter yang melekat dalam diri mereka,”.

Dalam pengajaran anak-anak SDN Percobaan tidak mengenal sistem mata pelajaran, namun dalam bentuk sistem tematik. Setiap murid akan belajar dalam satu tema, yang didalamnya terdapat berbagai bidang mata pelajaran.

Dalam pembelajaran itu mereka akan dilatih sopan santun, berani mengeluarkan pendapat disertai mata pelajaran yang ada seperti ilmu pengetahuan alam, matematika, bahasa dan penanaman karakter lainnya.

"Seluruh mata pelajaran akan diramu ke dalam sebuah permainan yang mengasikkan. Para murid tidak akan tahu bahwa dalam permainan yang mereka jalankan itu mereka sedang belajar IPA, matematika atau pkn," kata dia menjelaskan.

Ia mengakui butuh keseriusan dalam mengaplikasikan program K-13 di sekolah mereka. Saat ada kebijakan perpindahan kurikulum pendidikan dari Kurikulum 2006 menuju K-13. Sekolah ini menjadi salah satu sekolah percontohan bersama beberapa sekolah lain.

Berselang beberapa waktu ada kebijakan baru yakni setiap sekolah boleh menentukan apakah mereka menggunakan kurikulum 2006 atau kurikulum 2013. SDN Percobaan mencoba menguatkan hati untuk tetap menggunakan K-13 dalam pembelajaran.

Hal itu didasari karena mereka memiliki fasilitas penunjang terlaksananya program Kurikulum 2013, selain itu mereka juga memiliki salah seorang guru yang telah memiliki kemampuan untuk mengajar di sistem ini.

“Kami melihat kelebihan kurikulum ini memfokuskan dalam pengembangan pendidikan karakter . Kami berupaya untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyukseskan program ini, salah satunya adalah mendidik seluruh guru agar memiliki kemampuan dalam mengajar sesuai dengan K-13 ini,” kata dia.

Saat itu dirinya menyadari tantangan untuk tetap bertahan menggunakan kurikulum 2013 cukup berat karena sebagian sekolah ada yang kembali ke kurikulum lama. Selain itu beberapa perubahan terjadi seperti sistem penilaian dan model pembelajaran.

“Namun kami tetap menguatkan hati dan mempersiapkan diri agar sekolah ini menggunakan kurikulum 2013, bukan untuk lebih hebat dari sekolah lain. Kami menilai kurikulum ini merupakan solusi bagi generasi muda untuk menghadapi zaman global seperti saat ini,” katanya.
Menggandeng Orang tua

Dalam menyukseskan program penguatan pendidikan karakter, pihaknya menggandeng orang tua dalam menciptakan anak yang berkarakter sesuai arahan dari kurikulum 2013. Caranya melalui program kelas orang tua yang diadakan setiap tiga bulan sekali.

Di dalam kelas ini para orang tua akan diberikan pengetahuan dan sosialisasi dalam melakukan pola asuh anak. Selain itu pihaknya juga mengoptimalkan sistem pendidikan keluarga, selain anak menerima pendidikan karakter di sekolah, para orang tua juga harus mendukung pembelajaran tersebut.

Ia mengatakan tri sentra pendidikan adalah sekolah, orang tua dan masyarakat. Ketiga hal tersebut harus memiliki visi misi yang sama dalam mendidik anak menjadi ssorang yang memiliki karakter.

“Apabila hanya sekolah yang serius dalam mendidik anak sedangkan orang tua dan masyarakat tidak mendukung maka program ini juga tidak tercapai,” kata dia.

Melalui kelas orang tua ini pihak sekolah merangkul mereka untuk hadir dalam sistem pendidikan anak. “Apabila dahulu kala orang tua dipanggil ke sekolah hanya terkait pendanaan atau keuangan, kita berupaya untuk mengubah persepsi itu. Orang tua diajak mendalami dunia pendidikan dan pendidikan karakter anak,” kata dia.

Selain itu, pihak sekolah dan orang tua juga bersepakat membuat kelas inspirasi. Para orang tua murid berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, hal ini dimanfaatkan untuk memeberikan arahan, inspirasi dan nasehat kepada murid-murid sehingga mereka memiliki pengetahuan yang lebih luas.

Contohnya salah seorang orang tua anak bekerja sebagai polisi, pihak akan meminta dia untuk mengisi kelas dengan memberikan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan anak di dalam kelas.

“Hal ini akan merangsang anak untuk memandang dunia ini lebih luas dengan pengetahuan yang mereka miliki,” kata dia menerangkan.

Sementara Pengamat pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Profesor Duski Samad menyambut baik langkah pemerintah untuk memasukkan pendidikan karakter ke dalam lingkungan sekolah
Karena pendidikan penguatan karakter ini biasanya terjadi di lingkungan masyarakat dan orang tua.

“Pendidikan karakter merupakan pendidikan dasar yang harus diterima anak, sumbernya adalah masyarakat dan orang tua karena sebagian besar waktu anak berada di sana,” kata dia.

Apalagi saat ini pendidikan karakter mulai terabaikan oleh masyarakat sehingga membuat generasi muda kehilangan prinsip dalam menjalani hidup sehingga terjerumus pada hal buruk seperti pergaulan bebas, narkoba dan tawuran.

Upaya yang dilakukan pemerintah mengembalikan pendidikan karakter merupakan solusi dalam menghadapi perubahan zaman. Dirinya berharap para sekolah dan pemangku kepentingan benar-benar menjalankan kurikulum tersebut sesuai dengan petunjuknya.

Hasil dari pendidikan karakter ini dapat dilihat dalam beberapa waktu mendatang karena saat ini masih dalam proses pembelajaran. Apabila dalam proses ini para guru berhasil menanamkan pendidkan karakter maka akan lahir generasi muda berkarakter.

"Pendidikan karakter di sekolah merupakan sebuah tantangan bagi sekolah, kita berharap kurikulum ini dapat berjalan dengan baik dan mencapai target yang dituju," kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang ini. (*)



Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar