Semangat Sumbar Memacu Industri Pariwisata

Pewarta : id Mandeh

Peserta RIF mengeksplorasi keindahan KWBT Mandeh dari Puncak Mandeh. (ANTARA SUMBAR / Didi Someldi Putra)

Semangat Pemerintah Daerah Sumatera Barat untuk memacu pertumbuhan di sektor pariwisata terpancar pada Forum Investasi Regional (RIF) 2017 yang baru saja berakhir di Padang pada Selasa (17/10).

Berdasarkan semangat itu pulalah, Badan Koordinasi Penamanan Modal (BKPM) sepakat untuk menetapkan Kota Padang sebagai tuan rumah forum yang diikuti ratusan investor dalam dan luar negeri tersebut.

"Kita memutuskan Padang sebagai tuan rumah setelah melihat komitmen, kesungguhan dan semangat pemerintah daerah setempat, mulai dari tingkat provinsi sampai kabupaten dan kota untuk memajukan industri pariwisata," kata Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Himawan Hariyoga usai meninjau kawasan Pantai Mandeh bersama para calon investor.

Terdapat puluhan investor dari 13 negara yang mengikuti forum tersebut, diantaranya Jepang, AS, Australia, Singapura, Malaysia, Rusia dan Uni Emirat Arab.

Mereka bergerak di bidang real estat, hotel dan properti, sektor energi, infrastruktur, jasa penerbangan, perkebunan dan industri pengolahan makanan, operator pelabuhan dan perbankan swasta.

Adalah Bupati Pesisir Selatan Hendra Joni yang secara gamblang "menggoda" calon investor dengan memberikan dua tawaran yang menggiurkan, yaitu gratis perizinan usaha serta gratis pajak daerah selama lima tahun bagi mereka yang ingin membuka usaha di daerahnya.

Pesisir Selatan adalah satu dari dua lokasi di Sumatera Barat yang ditawarkan kepada calon investor untuk dikembangkan, yaitu kawasan Pantai Mandeh yang terdiri atas puluhan pulau. Satu kawasan lagi adalah Gunung Padang di Kota Padang.

Saat menjamu calon investor asing serta investor lokal di rumah dinasnya di Painan, Ibu Kota Pesisir Selatan, mantan polisi itu tampak antusias memaparkan potensi-potensi wisata yang bisa dikembangkan, terutama puluhan pulau yang siap dijadikan resor dengan pantai berpasir putih dan cocok untuk wisata bahari.

Sebagai bupati, dirinya mempresentasikan kepada calon investor inilah potensi keindahan alam yang bisa dikembangkan, semua gratis, termasuk izin, tidak akan dipersulit.

Selain gratis izin usaha, para investor juga tidak akan dipungut pajak daerah selama lima tahun, yaitu saat mereka memulai usaha di berbagai sektor, terutama perhotelan atau restoran.

Salah satu resor yang sudah beroperasi di Kawasan Pulau Mandeh adalah Pulau Cubadak yang dikelola oleh pengusaha asal Italia dengan sistem kontrak yang akan berakhir pada 2020.

Tapi resor di Pulau Cubadak yang hanya terdiri atas belasan kamar tersebut lebih ditujukan bagi wisatawan asing karena mematok harga ratusan dolar AS per malam.

Dalam pengembangan kawasan wisata Pantai Mandeh, dalam waktu dekat juga akan dikembangkan lokasi dengan tarif yang lebih terjangkau bagi masyarakat lokal sehingga semua lapisan bisa ikut menikmati keindahan tersebut.

Selain pulau Cubadak, pulau lain yang akan dikembangkan sebagai resor ekslusif adalah Bukik Ameh dengan luas lebih dari 1.400 hektare. Pembebasan lahan saat ini sedang dalam proses dengan anggaran Rp50 miliar.

Himawan menyambut baik komitmen Bupati Hendra untuk menggratiskan pengurusan izin usaha dan membebaskan investor dari pajak daerah selama lima tahun pertama. Kebijakan itu diyakini cukup efektif untuk menarik investor untuk menanamkan modal mereka, mengingat persaingan antardaerah untuk menggaet investor juga cukup tinggi.

Tidak Cukup Hanya Potensi
Potensi berupa keindahan alam yang dimiliki Sumatera Barat tidaklah cukup untuk memajukan industri wisata, karena banyak faktor penunjang lainnya dan tidak bisa digenelisir penyebab tidak berkembannya industri wisata suatu daerah.

Berdasarkan pengalaman Himawan di BKPM saat berinteraksi dengan investor asing, secara umum hal yang paling menjadi perhatian mereka adalah komitmen kepala daerah terhadap dukungan berinvestasi, baru kemudian masalah keamanan, kenyamanan, kemudahan perizinan, memperoleh tanah, kepastian tanah, kepastian hukum.

Tapi kadang-kadang ada daerah yang menawarkan potensi dulu, sementara investor sudah punya hitung-hitungan sendiri mengenai siapa saja pangsa pasar mereka dan berapa kemampuan calon pengunjung.

Secara umum, Sumatera Barat sebenarnya memiliki potensi keindahan alam yang sudah lengkap, mulai dari pantai, danau, gunung, ngarai dan potensi tersebut menjadi semakin lengkap dengan kekayaan alam dan kuliner.

Tapi dalam fakta di lapangan berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Ranah Minang melalui Bandara Internasional Minangkabau sepanjang 2016 hanya berjumlah 45.398 orang, menurun dibanding pada 2015 (48.755) dan pada 2014 (56.111).

Selama lima tahun terakhir, yaitu pada 2012-2016, wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat didominasi oleh wisatawan asal Malaysia (78,5 persen), disusul Australia (4,4 persen).

Secara nasional, data realisasi investasi Sumatera Barat pada 2012 sampai semester pertama 2017 menduduki peringkat ke-27 sebesar Rp12,9 triliun, jauh tertinggal dari Jawa Barat (Rp472,5 triliuan) yang berada di urutan teratas.

Bahkan untuk koridor Sumatera, peringkat investasi Sumatera Barat tercecer di urutan ke delapan, hanya lebih baik dari Bangka Belitung (Rp11,7 triliun) dan Bengkulu (Rp4,4 triliun). Peringkat teratas diduduki Sumatera Selatan (Rp118,2 triliun), disusul Riau (Rp100,2 triliun). (*)
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar