Berita harian sumbar terkini update terlengkap

Bank Nagari
Berita

Nusantara - 27/04/2013 12:03 WIB

IPB Temukan Cara Deteksi Ikan Tahan KHV

Bogor, (Antara Sumbar) - Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, menemukan teknologi baru cara mendeteksi ikan dari serangan virus Koi Herpes (KHV) yang mewabah sehingga dapat mencegah kematian massal pada ikan akibat virus tersebut.

"Kami menemukan cara sederhana (menggunakan analisis PCR) untuk memilih ikan mas yang tahan infeksi KHV yakni ikan mas yang memiliki Cyca-DAB1*05 (MHC II) sebagai penanda molekuler," kata Dr. Ir. Alimuddin Peneliti dari Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, dalam siaran persnya di Bogor, Sabtu.

Alimuddin menjelaskan bahwa Cyca-DAB1*05 (MHC II) adalah penanda molekuler potensial yang bisa digunakan untuk membantu menyeleksi ikan dalam meningkatkan resistensi ikan mas dari KHV.

Inovasi ini merupakan metode sederhana untuk memilih ikan mas tahan infeksi KHV melalui marka molekuler.

Kelebihan lain inovasi ini adalah kemudahan untuk diaplikasikan oleh laboratorium yang memiliki fasilitas PCR dan elektroforesis DNA.

Dengan demikian, pembenih ikan mas dapat memilih calon induk ikan yang tahan infeksi KHV untuk dipelihara, dan biaya untuk memproduksi induk bisa diminimalkan.

Wabah virus KHV pernah terjadi tahun 2002 menyerang ikan mas (dan koi) di Indonesia. Sejak munculnya wabah tersebut tidak dapat hilang dari tubuh ikan dan selalu berulang, terlebih pada musim hujan.

"Virus KHV ini aktif pada suhu air 18-27°C yang mengakibatkan kematian massal bagi ikan," kata Alimuddin.

Lebih lanjut dijelaskanya, ciri ikan yang terkena KHV dilihat dengan mata awam ada pada insangnya yang berwarna putih. Kalau insang sudah putih maka tinggal tunggu waktu dan jika sudah terserang maka populasi ikan ditambak akan habis.

Umumnya serangan KHV terjadi pada musim peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Wilayah Jawa Barat menjadi daerah yang rentan dengan virus ini karena memiliki intensitas hujan tinggi, dengan suhu 20°C-22°C.

"Perlu diwaspai oleh penambak ikan mas. Bahkan sekarang sudah diindikasikan, suhu 25 °C sudah muncul serangan, kemungkinan KHV sudah menyesuaikan diri," katanya.

Alimuddin menyebutkan, vaksi pencegah virus yang dilemahkan telah tersedia, namun harganya sangat mahal dan dari hasil pengujian yang dilakukan ada indikasi virus tersebut sebagian masih virulen.

Selain vaksin, alternatif lainnya dengan manipulasi gen dan mencari ikan dengan genetik yang tahan KHV.

Untuk skala penambak atau petani ikan, lanjut Alimuddin, kondisi demikian tidak menguntungkan, karena akan mengeluarkan biaya besar dalam usaha penambakan ikan.

Ia mencotohkan, pada 2002 ikan mas di Cirata habis terserang virus tersebut dan hanya menyisakan 5 persen dari populasi.

"Ternyata dari ikan yang tersisa ada yang mempunyai pembeda secara genetik yang tahan KHV," katanya.

Dijelaskannya, metode temuannya seperti ciri pada manusia. Jika manusia ada yang rambut lurus atau keriting, pada ikan mas juga ada yang seperti itu.

"Dari ikan yang tersisa tersebut ada ikan mas yang memiliki gen yang tahan KHV. Dari penelitian yang dilakukan sejak tahun 2009, kami menemukan cara sederhana (menggunakan analisis PCR) untuk memilih ikan mas yang tahan infeksi KHV yakni ikan mas yang memiliki Cyca-DAB1*05 (MHC II)," ujarnya.

Dikatakannya bahwa metode yang sudah ada di luar (mengidentifikasi ikan mas tahan KHV) kelihatannya tidak semua bisa menggunakan.

Sementara itu, menggunakan penanda MHC II dimana ada beberapa alel khas. Kemudian dirancang primer sederhana yang mudah digunakan oleh laboratorium yang fasilitasnya terbatas (dengan PCR).

Di Indonesia Balai Laboratorium benih ikan, lanjut dia, sudah ada alat-alat seperti PCR dan elektroforensis.

"Dengan metode sederhana yang kami ciptakan, hampir semua unit pelaksana teknis KKP daerah (propinsi) ini bisa dan mudah menggunakannya," urainya.

Untuk menerapkan metode hasil penelitiannya, tidak semua UPT Pusat mempunyai alat yang lengkap. UPT yang bisa dianggap lengkap fasilitasnya ada di Jambi, Sukabumi, Jepara, Situbondo, Banjarmasin, Takalar Maros, Tadelu, Ambon dll.

Saat ini, UPT-UPT air tawar sudah menggunakan metode ini seperti Sukabumi dan Mandiangin. Hanya ikan terpilih yang dijadikan indukan yang kemudian diproduksi anakannya dan disebarkan ke masyarakat.

Ia mengatakan, akhir tahun lalu, produksi ikan mas di Kalimantan Selatan habis. Secara nasional, mengatasi serangan KHV paling cepat menggunakan marka molekuler dengan mencari ikan yang tahan KHV.

"Tahun ini sudah berhasil dikembangkan keturunan ke dua (F2) dari induk yang tahan KHV di Sukabumi karena fasilitasnya yang lumayan lengkap. Selain meningkatkan anakan, penelitian lanjutan juga dilakukan untuk memeriksa pewarisannya sifat tahan KHV," ujarnya.

Alimuddin melanjutkan, pada tahun 2014 rencananya akan dirilis ribuan indukan dari F2 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang tahun ini prosesesnya sedang dilakukan periksa lagi kestabilannya, uji-uji tantang ulang sebelum rilis.

"Belum ada yang mengatakan virus ini hilang, yang paling parah tadinya suhu 22 sekarang suhu 25 sudah muncul, potensi munculnya wabah KHV," katanya. (*/jno)

ANTARA Sumbar

kirim komentar untuk berita Kirim Komentar

  kode:
Aie Angek Cottage
Flash Player dibutuhkan untuk memutar video.

Bursa Pariwisata Targetkan Rp665 Milliar

PERSPEKTIF

Ketika Android Merampas Anak-anak Kami

Try Reza Essra Oleh: Try Reza Essra

"(Saya) lebih suka main di rumah, main game di Android," ucap Rasya Prima (8) sambil memainkan permainan Candy Crush Saga di telepon pintar..

Pasang Iklan dan Banner di antarasumbar.com
akses m.antarasumbar.com dari gadget mu
DEFAULT BANNER 27

Nusantara - Hari ini, jam 09:06 WIB WIB

Persipura Jayapura Terima SK Sanksi Dua Pemain..


Nusantara - 24/10/2014 07:25 WIB WIB

DPRD : Ahok Tidak Bisa Pilih Wakil Sendiri..