Berita harian sumbar terkini update terlengkap

Ultah ANTARA 77
Berita

Internasional - 11/03/2014 09:36 WIB

Politik Bahasa dalam Krisis Ukraina

Kiev, (Antara/AFP) - Signifikansi bahasa dalam krisis yang meningkat di Ukraina muncul untuk pertama kali ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa tujuan pengiriman pasukan ke Krimea adalah untuk melindungi warga yang berbahasa Rusia di wilayah tersebut.

Pada umumnya, warga di bagian barat dan juga kota Kiev menggunakan bahasa Ukraina, sementara warga di selatan dan timur berkomunikasi dengan bahasa Rusia.

Meskipun demikian, sebagian besar warga Ukraina menguasai kedua bahasa tersebut dan dapat menggunakannya dalam situasi yang berbeda.

Dengan invasi pasukan Rusia di Krimea di satu sisi dan pemerintah pro Barat di Kiev di sisi lain, maka kata-kata kini sangat erat dengan sikap politik.

"Dalam politik, penggunaan bahasa adalah pernyataan sikap politik," kata sosiolog Ukraina Iryna Bekeshkina kepada AFP.

Saat Moskow mengirim pasukan ke Krimea, warga di Kiev mulai menolak menggunakan bahasa Rusia sebagai protes atas tindakan istana Kremlin tersebut.

Bahkan salah satu politisi Ukraina pro Barat, Oleg Tyagnybok, meminta penerjemah saat stasiun televisi Rusia hendak mewawancarainya meskipun dia diketahui fasih berbicara dengan bahasa resmi mantan negara Uni Soviet itu.

Bahasa Rusia dan Ukraina sama-sama berakar dari Slavia timur. Namun meskipun mempunyai kesamaan tata kalimat, perbedaharaan kata, dan huruf yang identik, kedua bahasa itu sangat berbeda satu sama lain.

Sebagian besar warga Ukraina menguasai bahasa Rusia karena bahasa tersebut diajarkan di sekolah. Hanya satu persen penduduk negara itu yang tidak mengerti sama sekali bahasa Rusia dan 30 persen lainnya tidak dapat menggunakannya secara fasih. Proporsi ini juga berlaku bagi bahasa Ukraina.

Tidak heran jika tahun 2010 lalu, parlemen melalui sebuah undang-undang mengesahkan bahasa Rusia sebagai bahasa resmi kedua di Ukraina.

Namun pemerintah pro Barat di Kiev pada bulan lalu berencana untuk membatalkan undang- undang itu.

Meskipun agenda politik itu akhirnya gagal di tengah jalan, Moskow mengecamnya dan menyatakan bahwa pemerintah Ukraina berusaha untuk membatasi hak asasi manusia bagi warganya sendiri.

Putin juga menggunakan alasan itu untuk menjustifikasi penggunaan pasukan militer dengan mengatakan bahwa Rusia mempunyai hak untuk melindungi warga Ukraina yang berbahasa Rusia.

Bagi politisi Ukraina yang juga mantan juara dunia kelas berat tinju, Vitali Klitschko, persoalan bahasa adalah masalah palsu yang hanya digunakan oleh para politisi yang kehabisan argumentasi.

"Ibu saya berbahasa Rusia dan ayah saya Ukraina. Saya sendiri sehari-hari menggunakan bahasa Rusia. Namun saya tidak merasakan hak saya akan dibatasi (oleh rencana pembatalan undang-undang itu)," kata Klitschko. (*/jno)

ANTARA Sumbar

kirim komentar untuk berita Kirim Komentar

  kode:
Aie Angek Cottage
Flash Player dibutuhkan untuk memutar video.

Bursa Pariwisata Targetkan Rp665 Milliar

PERSPEKTIF

Tiga Rahasia Tiongkok

Oleh: GNC Aryani

"Tuntutlah Ilmu hingga ke Negeri China". Peribahasa itu cukup popular di publik Indonesia untuk menggambarkan bahwa belajar tidak mengenal batas..

Pasang Iklan dan Banner di antarasumbar.com
akses m.antarasumbar.com dari gadget mu
DEFAULT BANNER 27

Internasional - Hari ini, jam 05:32 WIB WIB

Suriah Jatuhkan "Drone" Israel di..


Internasional - Hari ini, jam 05:30 WIB WIB

Ketua DPR Suriah Puji Hubungan dengan Iran..