Berita harian sumbar terkini update terlengkap

Bank Nagari
Nusantara - 09/05/2013 01:59 WIB

SKK-Migas Prihatin Atas Kasus Bioremediasi Chevron

Kepala SKK-Migas Rudi Rubiandini. (Antara)

Kepala SKK-Migas Rudi Rubiandini. (Antara)

Pekanbaru, (Antara Sumbar) - Satuan Kerja Khusus Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK-Migas) menyampaikan keprihatinannya terhadap kasus bioremediasi PT Chevron Pasific Indonesia yang dianggap masih jauh dari rasa keadilan.

"Saya ikut prihatin atas keputusan dewan hakim terhadap mitra kerja Chevron dan SSK-Migas yang mendapatkan hukuman dalam kasus bioremediasi," kata Kepala SKK-Migas Rudi Rubiandini dalam pesan elektroniknya kepada Antara Pekanbaru, Kamis.

Dua dari lima terdakwa kasus pengelolaan limbah dengan sistem bioremediasi lahan yang tercemar minyak di areal kerja Minas, Riau, masing-masing Ricksy Prematuri selaku Direktur PT Green Planet Indonesia (GPI) dan Herland bin Ompo selaku Direktur PT Sumigita Jaya sebelumnya dinyatakan terbukti bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Selatan.

Ricksy pada Selasa (7/5) divonis bersalah dengan pidana penjara lima tahun dan denda Rp 200 juta subsider kurungan dua bulan serta perusahaan yang dia pimpin diwajibkan membayar kerugian negara sebesar 3,089 juta dollar AS atau setara dengan Rp29 miliar.

Sementara Herland pada Rabu (8/5) divonis bersalah dengan gajaran enam tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan serta diwajibkan membayarkan kerugian negara sebesar 6,9 juta dular US atau setara dengan Rp67,137 miliar.

"Nantinya, saya akan melakukan komunikasi dengan pimpinan-pimpinan tertinggi di negara ini untuk menyampaikan keprihatinan atas ketidakadilan yang terjadi," kata Kepala SKK-Migas.

Rudi mengatakan, pihaknya sangat mengharapkan agar opreasional Chevron di lapangan dapat tetap berjalan secara optimal.

"Tetap bekerja secara profesional dan dengan fokus yang tinggi terhadap keselamatan kerja," katanya.

Pihak Chevron mengharapkan SKK-Migas dapat mengupayakan solusi terbaik yang sesuai dengan "Production Sharing Contract (PSC)" yang melandasi operasi Chevron di Indonesia.

Saat ini masih tersisa tiga terdakwa yang merupakan karyawan PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), yakni Kukuh Kertasafari, Endah Rumbiyanti dan Widodo. Ketiganya masih menjalani proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta Selatan. (*/jno)

ANTARA Sumbar

kirim komentar untuk berita Kirim Komentar

  kode:
Aie Angek Cottage
Flash Player dibutuhkan untuk memutar video.

Bursa Pariwisata Targetkan Rp665 Milliar

PERSPEKTIF

Ketika Android Merampas Anak-anak Kami

Try Reza Essra Oleh: Try Reza Essra

"(Saya) lebih suka main di rumah, main game di Android," ucap Rasya Prima (8) sambil memainkan permainan Candy Crush Saga di telepon pintar..

Pasang Iklan dan Banner di antarasumbar.com
akses m.antarasumbar.com dari gadget mu
DEFAULT BANNER 27

Nusantara - Hari ini, jam 07:25 WIB WIB

DPRD : Ahok Tidak Bisa Pilih Wakil Sendiri..


Nusantara - Hari ini, jam 04:51 WIB WIB

Kabupaten Jayapura Akui Sembilan Wilayah..