latest daily news from padang west sumatra indonesia

Nasional - 01/01/1970 07:00 WIB

Biaya Perjalanan Darat Luwuk-Palu Naik Lebih 100 Persen

Palu, (ANTARA) - Akibat terputusnya lima buah jembatan besar pada ruas Bunta-Ampana di Provinsi Sulawesi Tengah sejak Rabu lalu (9/7), penumpang bus angkutan umum dari Luwuk tujuan Palu dan sebaliknya, terpaksa menanggung beban biaya perjalanan yang naik lebih 100 persen dari tarif normal.

Tingginya biaya perjalanan ini mulai dikeluhkan para penumpang kendaraan angkutan umum yang melintasi ruas jalan tersebut.

Ny. Mala, penumpang bus PO Honda Jaya yang baru tiba di Palu dari Luwuk, Minggu, mengatakan dalam kondisi normal tarif bus angkutan umum Luwuk-Palu (607 kilometer) hanya Rp120 ribu per penumpang, tapi kini sudah menjadi Rp270 ribu per penumpang.

Masalahnya, kata dia, setiap penumpang harus mengeluarkan biaya tambahan Rp150 ribu untuk tiga kali menyeberangi jembatan yang terputus melalui laut di Teluk Tomini menggunakan perahu motor ketinting, guna melanjutkan perjalanan ke kota tujuan dengan bus yang suduh menunggu di seberang.

Dia menjelaskan, akibat terputusnya Jembatan Tobelombang, Jembatan Bangketa, dan Jembatan Balingara di Kabupaten Banggai serta Jembatan Sabo dan Jembatan Bongka di Kabupaten Tojo-Unauna, para penumpang angkutan umum dari Luwuk (ibukota Kabupaten Banggai) tujuan Palu harus berhenti di desa Tobelombang (berjarak sekitar 220km barat laut Luwuk).

Dari sini kemudian para penumpang menaiki lagi perahu ketinting milik nelayan untuk menyeberang ke desa Balingara dengan tarif Rp50.000/orang.

Selanjutnya, dari desa Balingara penumpang melanjutkan dengan perahu ketinting lain menuju desa Sabo dengan bayaran Rp50.000/orang, dan terakhir dari desa Sabo menuju Padapu (Kabupaten Tojo-Unauna) juga dengan tarif sewa ketinting Rp50 ribu/orang, guna melanjutkan perjalanan dengan bus satu PO yang telah menunggu di seberang.

"Gonta-ganti kendaraan disertai tambahan biaya perjalanan sangat besar itu juga dialami oleh para penumpang dari Palu dan Makassar tujuan Luwuk, sehingga benar-benar telah menyulitkan masyarakat luas," katanya.

Keluhan senada disampaikan Rahman, penumpang dari Palu tujuan Luwuk.

"Saat saya dan puluhan penumpang lain terjebak banjir akibat terputusnya Jembatan Bongka pada Kamis lalu, semua kami terpaksa menyeberang laut menggunakan perahu ketinting dari Padapu hingga tiga kali untuk sampai di desa Tobelombang. Baru kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus yang sudah menunggu di sana untuk menuju Luwuk," kata dia menceritakan melalui telepon setibanya di Luwuk.

Rahman juga mengatakan, terputusnya lima buah jembatan di jalan provinsi yang ada di Kabupaten Banggai dan Tojo-Unauna itu telah memperpanjang waktu perjalanan penumpang dari Palu tujuan Luwuk yakni dari 16-18 jam menjadi hingga dua hari. Demikian pula sebaliknya.

"Pokoknya, putusnya jembatan-jembatan yang menghubungkan wilayah timur dan barat Provinsi Sulteng ini, selain telah meningkatkan beban biaya bagi masyarakat luas, juga sudah sangat mengganggu kelancaran arus barang dan jasa," katanya.

Mengingat perbaikan semua jembatan yang terputus ini memerlukan waktu lama, para pengguna jasa angkutan darat setempat mengharapkan Dinas Perhubungan Provinsi Sulteng segera menyediakan kapal-motor palayaran rakyat yang menghubungkan Pelabuhan Poso dengan Pelabuhan Bunta atau Pelabuhan Pagimana, guna melancarkan arus barang dan jasa dari barat dan timur Sulteng maupun sebaliknya yang kini sudah sangat terganggu.

"Perlu segera ada kapal-motor yang melayari Poso-Ampana-Bunta/Pagimana pp, guna melancarkan kembali arus barang dan jasa serta mengurangi beban biaya besar yang dipikul masyarakat," kata Rahman menambahkan.(K-RM)

ANTARA Sumbar

daftar komentar untuk berita Leave a comment

indeks berita RSS Berita Sumatera Barat | ANTARA Sumbar

Mercure Hotel Padang
Flash Player dibutuhkan untuk memutar video.

3000 Aparat Amankan Daerah Rawan Macet